Kenapa
teater? Pertanyaan yang bagus. Teater sendiri berasal dari kata theatron (θέατρον) dalam
bahasa Yunani yang berarti mengarah kepada sebuah gedung pertunjukan atau
tempat untuk menonton. Pengertian tersebut kemudian dimaknai menjadi lebih
luas, dan digunakan sebagai penyebutan untuk kegiatan para pelaku subyek yang
menampilkan rekaman-rekaman gambaran peristiwa secara langsung. Mengapa hal
tersebut menjadi begitu menarik? Tak ada alasan khusus. Mengutip salah satu kata
mutiara milik seorang penulis dan penyair asal Irlandia, Oscar Wilde, bahwa ‘seseorang tidak sepenuhnya menjadi dirinya
ketika ia bicara atas nama dirinya. Berilah ia topeng, maka ia akan mengatakan
kebenaran’. Rupanya hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Nyatanya kerap
kali kita masih berteater di luar panggung. Di masyarakat misalnya, atau
lingkungan yang lebih kecil kepada teman sendiri. Itu merupakan sebuah bentuk
apresiasi yang salah.
Aku
bukanlah seorang yang pandai untuk mengekspresikan emosi. Mengungkapkan luapan
isi hati kepada orang lain yang dirasa
melenceng atau sedikit mengusik hidupku. Kuakui, akupun sering berteater
dikehidupan nyata. Menyembunyikan apa yang seharusnya diungkapkan, dan
mengungkapkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi. Begitulah akhirnya aku
berkenalan dengan teater. Bertemu dengan banyak orang yang juga enggan untuk
memendam kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan. Mulai belajar terbuka,
berbagi, dan memahami. Memahami bentuk kegelisahan mana yang cocok dengan diri,
dan ingin diungkapkan. Membagi kisah, bilamana mulut tak dapat berbicara
langsung di kehidupan nyata, maka berbicaralah diatas panggung. Bilamana diri
tak dapat terbuka pada satu orang, maka terbukalah pada banyak orang sekaligus
diatas panggung.
Berbicara
soal mengungkapkan, nyatanya hal tersebut juga bukan perkara mudah. Tak luput
dari batasan-batasan yang tak boleh dilewati. Bebas bukan berarti lepas.
Berteater tidaklah sebercanda itu. Apakah dengan adanya batasan itu lantas akan
mempersempit ruang lingkup kita? Tidak. Tentu saja tidak. Batasan hanya akan
membantu kita untuk mencapai poin penting yang ingin disampaikan. Mari kita
imajinasikan seandainya tak ada batasan apapun dalam berpendapat—dalam konteks
ini kita berfokus pada metode berteater. Tentu hasil yang diperoleh akan
simpang-siur. Orang lain tak akan menangkap apa pesan yang ingin kita
sampaikan. Walaupun sebenarnya dalam kondisi umum pesan dalam sebuah
pertunjukan akan sampai tergantung pada tingkat pemahaman individu. Hal yang
lebih sering ditangkap dari sebuah pertunjukan adalah kesan dan bagaimana
mereka akan mengolah kesan tersebut mendekati pesan yang dimaksud. Tentu
interpretasi dari masing-masing individu akan berbeda, bukan?
Hal
lain yang kusukai adalah dalam dunia seni peran, kita dapat mewujudkan
imajinasi yang selama ini hanya menjadi arsip dalam otak kita. Lalu perwujudan
tersebut dapat dinikmati bersama khalayak luas, bahkan dapat kita ikut sertakan
mereka. Hidup dalam kepura-puraan diatas panggung lebih baik daripada harus
mengoleksi berbagai jenis topeng untuk digunakan pada aktivitas sehari-hari. Tidakkah
hal itu lebih efisien dan tidak menguras banyak energi? Dari hasil observasiku,
aku mendapati bahwa individu yang kerap kali ‘mengganti wajahnya’ akan
membutuhkan waktu lebih lama untuk mengisi energinya kembali. Tidak jauh
berbeda ketika kita akan memainkan sebuah peran.
Ada
banyak jenis perwujudan presentasi seni peran. Gerak, merupakan hal yang paling
kusukai. Bagaimana kita mengimplementasikan sebuah kejadian melalui dinamika variasi
gerakan tubuh, itu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Dalam beberapa kasus,
selain observasi, pemahaman dan rasa akan sebuah karakter yang akan dimainkan,
perlu juga adanya pendalaman karakter. Bagaimana kita dapat membentuk sebuah
karakter yang diinginkan, menjadi utuh, dan memiliki rasa sendiri. Beberapa kali
aku telah mencobanya. Ada yang gagal, ada yang hanya terbentuk separuh, dan ada
yang berhasil namun tidak sesuai dengan ekspektasi. Tentu saja, karena teater
lagi-lagi tidaklah sebercanda itu. Sungguh sebuah wadah penyalur yang hebat
bukan?
No comments:
Post a Comment